Selasa, 01 Juli 2008

CERPEN 4 MAHMUD JAUHARI ALI

Dedaunan

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Siang itu Darman duduk termangu sendiri di teras samping rumahnya. Sudah satu minggu ini ia sering seperti itu. Tatapannya kosong seakan tiada yang dipikirkan dalam otaknya. Terkadang matanya menatap sebuah pohon yang berukuran besar dan berdaun rimbun segar tak jauh dari tempatnya duduk. Pohon itu dulunya ditanam oleh kakeknya sewaktu ia masih berusia dua belas tahun. Kini usia Darman sudah dua puluh tujuh tahun. Berarti pohon itu sudah menemaninya selama lima belas tahun. Jika sore telah tiba, biasanya ia dan keluarganya duduk santai di bawah pohon yang rindang itu. Udara yang sejuk menjadi salah satu alasan mereka sering duduk bersama di sana. Canda dan tawa mengiringi kebersamaan mereka di bawah naungan dedaunan hijau peninggalan sang kakek.
Lalu mengapa Darman sering termenung sendiri? Padahal dia sekeluarga hidup bahagia dan tidak ada masalah dengan pohon tersebut. Tidak ada daun-daun yang layu misalnya dari pohon itu. ranting, cabang, dan pohonnya pun masih terlihat kukuh. Saat berbuah pun, buahnya besar-besar dan sangat manis. Maklum, pohon itu adalah pohon mangga golek berkalitas tinggi. Dahulu kakek Darman sengaja mencari bibitnya di Bogor. Kenangan indah tentang sang kakek selalu melekat dalam pikiran Darman saat ia memandang pohon tersebut.
Apakah karena ia rindu dengan kakeknya sehingga ia sering duduk termenung sendirian? Sang kakek sudah meninggal dunia enam tahun yang lalu. Kakek Darman orangnya sangat ramah dan menyayangi keluarganya. Darman adalah salah satu cucu kesayangan sang kakek. Mereka dari dulu hidup rukun dalam kebersamaan yang erat.
***

Satu bulan yang lalu keluarga Darman dan keluarganya kedatangan tetangga baru. Tetangga baru mereka itu datang dari kota yang jauh. Mereka sekeluarga pindah di desa Darman karena tuntutan pekerjaan. Pak Joni—kepala rumah tangga mereka—mendapatkan tugas menjadi lurah di desa itu dari atasannya. Rumah keluarga pak Joni sebelumnya adalah tanah kosong yang sering digunakan anak-anak di desa itu untuk lapangan bermain sepak bola dengan riangnya. Sehabis bermain sepak bola, biasanya anak-anak tersebut duduk di bawah pohon mangga milik keluarga Darman yang letaknya bersebelahan dengan tempat mereka bermain bola. Setelah dibangun sebuah rumah yang tergolong mewah, anak-anak di desa itu pun tidak pernah lagi duduk di bawah pohon mangga peninggalan kakek Darman.
Tetangga baru mereka termasuk orang-orang yang individualis. Mungkin karena mereka lama tinggal di kota sehingga mereka memiliki sifat seperti itu. Mungkin juga disebabkan oleh pembawaan watak pada diri mereka sendiri karena tidak semua orang kota bersifat individualis. Masih ada orang-orang kota yang mau berjabat tangan dan tersenyum ramah dengan orang-orang di sekitar mereka. Mungkin juga karena keluarga pak Joni merasa lebih tinggi martabatnya daripada warga di desa itu. Jarang sekali keluarga pak Joni mau tersenyum apalagi menyapa orang yang berpapasan dengan mereka di desa itu termasuk dengan keluarga Darman. Kalau pun ada salah seorang warga yang menyapa mereka, hanya kata “ya” yang muncul dari mulut mereka.
Suatu malam pak Joni bersama warga di desa tersebut mengadakan rapat desa di Balai Desa. Banyak kritik yang dilontarkan pak Joni dalam rapat tersebut. Kemajuan desa merupakan bagian yang paling dikritik oleh pak Joni. Pak Joni tidak ragu-ragu mengatakan bahwa desa itu tidak maju. Sontak sebagian warga setempat menjadi geram dibuatnya. Banyak warga yang tidak sependapat dengan pak Joni karena selama ini desa itu lebih unggul dari beberapa bidang kehidupan daripada desa lainnya, seperti dalam bidang olahraga, ekonomi, dan dalam bidang perkebunan. Bahkan, di desa itu ada pembangkit listrik tenaga air yang dibuat oleh salah seoang warganya sehingga mereka tidak perlu meminta jasa listrik dari pemerintah. Bahkan, listrik mereka juga mereka alirkan ke dua desa di sekitarnya. Sebagian warga lainnya ikut mendukung pendapat pak Joni. Entah apa alasan mereka mendukung pak Joni. Mungkin mereka sudah dibeli oleh pak Joni dengan harga yang pantas. Menyangkut masalah kebersihan desa, pak Joni kembali mengatakan bahwa kebersihan di desa itu kurang bersih. Pak Joni sengaja menyebut pohon mangga milik keluarga Darman sebagai salah satu sumber sampah di desa itu. Alasannya adalah dedaunan dari pohon mangga milik Darman berjatuhan di halaman samping rumah pak Joni. Dedaunan itulah yang disebut pak Joni sebagai sampah yang harus dibasmi dari akarnya. Menurut pak Joni, akar dari sampah dedaunan itu adalah pohon mangga kesayangan Darman. Jadi, menurut pak Joni solusi untuk membasmi sampah dedaunan itu adalah pohon mangga milik Darman harus segera ditebang habis.
Saat itu Darman dan sebagian warga menyarankan dua solusi, yakni agar pohon mangga itu dijadikan sebagai milik bersama—milik Darman dan pak Joni—sehingga mereka sama-sama memetik buahnya dan membersihkan dedaunan yang berjatuhan dari pohon mangga itu. Solusi yang kedua, jika pak Joni keberatan terhadap solusi pertama, bagian yang ditebang cukup cabang dan ranting yang berada di atas tanah halaman pak Joni. Akan tetapi, pak Joni dan sebagian warga yang lain tidak setuju dengan kedua saran tersebut. Kubu pak Joni mengatakan bahwa jika menjadi milik bersama, pak Joni akan mendapatkan bagian buah lebih sedikit daripada Darman karena bagian pohon yang berada di atas tanah pak Joni bagiannya lebih sedikit daripada yang berada di atas tanah Darman. Solusi yang kedua juga disanggah kubu pak Joni. Kubu pak Joni mengatakan bahwa jika hanya sebagiannya yang ditebang, nantinya akan tumbuh kembali cabang yang mengarah ke halaman pak Joni. Bahkan, kubu pak Joni mengancam jika Darman tetap mempertahankan pohon mangganya, ia akan melaporkan keluarga Darman kepada polisi dengan tuduhan menghalang-halangi orang untuk menciptakan kebersihan di desa itu. Darman dan warga lainya hanya bisa diam karena mereka takut jika pak Joni menggunakan kekuasannya sebagai lurah untuk meperkarakannya dengan pihak yang berwajib. Pak Joni memang orang yang termasuk gemar mengintimidasi orang lain guna meluruskan keinginannya.
Perasaan sedih selalu menghampiri Darman pascarapat malam itu. Ia terlihat sangat terpukul dengan keputusan yang tidak sesuai dengan hati nuraninya. Dalam pikiranya, ia masih tidak dapat membenarkan keputusan itu. Istri dan keluarganya yang lain hanya bisa memberi dukungan moril kepada Darman agar ia tabah menerima kenyataan itu. Mereka sadar bahwa mereka hanyalah orang kecil yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan lurah baru di desa mereka. Mereka sangat menyayangkan menapa hanya karena dedaunan, pohon mangga mereka harus ditebang secara keseluruhan. Karena itulah Darman sering duduk termenung sendirian dan kadang-kadang memandangi pohon mangga kesayangannya.

***

Sementara itu pak Joni dan sebagian warga pendukungnya mulai mempersiapkan eksekusi terhadap pohon mangga keluarga Darman. Segala perlengkapan sudah mereka siapkan untuk menebang habis pohon itu. Hari eksekusi sudah di hadapan mata keluarga Darman. Mereka hanya bisa pasrah menghadapi kepemimpinan yang bersifat tirani di desa mereka. Kebebasan mereka seakan sudah hilang dengan adanya tetangga baru mereka itu. Suara teriakan mereka bagaikan angin sepoi-sepoi yang tak dapat menumbangkan kekukuhan sebuah benteng kekuasaan yang dahsyat.
Hari nahas itu akhirnya datang juga tanpa permisi di hadapan keluarga Darman. Tali-temali penyiksaan mulai dililitkn pada batang pohon mangga keluarga Darman. Saat itu pohon mangga kesayangan kelurga Darman seperti pesakitan yang akan dihukum mati oleh algojo yang perkasa. Suara gergaji yang dimainkan dengan sangat piawai sungguh membuat hati keluarga Darman menjadi merintih kesakitan dan sangat sedih. Satu per satu cabang dan ranting dari pohon itu digergaji oleh kubu pak Joni. Potongan-potangan cabang dan ranting itu pun seterusnya mereka seret dan dimasukkan ke gerobak sampah yang kotor. Sementra batangnya digayat dengan sadis menggunakan gergaji yang mulai tumpul karena sudah digunakan berulang-ulang untuk memotong semua cabang dan rantingnya. Akhirnya, batang itu ditarik-tarik dan roboh dengan sangat menyedihkan. Darman seketika itu menitikkan air mata kesedihan. Ia masih ingat betapa sayangnya kakeknya dengan pohon yang kini sudah tak bernyawa lagi itu. Setiap pagi dan sore kakeknya tidak pernah lupa menyirami pohon tersebut. Kini, itu semua hanya menjadi sebuah kenangan tak berbekas karena sudah dikikis habis oleh kekuasaan tak terbatas.
Darman dan keluarganya merasa tak dihargai dan tak diangggap sebagai manusia yang memunyai hak untuk bercocok tanam di desa mereka yang hijau bagai zamrud yang indah dan menawan hati orang yang melihatnya. Pak Joni dengan sombongnya berjalan di hadapan keluarga pak Darman dengan senyuman yang jahat. Senyumannya mengiris hati Darman sekeluarga. Darman dan keluarganya heran, ternyata di dunia ini masih ada orang –orang yang tega berbuat jahat kepada sesamanya. Seakan tidak ada lagi rasa kasih sayang kepada manusia yang lain di sekitarnya. Dulu, orang-orang jahat dalam sinetron hanya dianggap keluarga Darman sebagai tipuan sang penulis naskah. Akan tetapi, hari ini mereka benar-benar menemui orang jahat seperti yang digambarkan dalam cerita di sinetron yang sering mereka tonton bersama.

***

Kini, pohon mangga peninggalan sang kakek yang sangat disayangi Darman sekeluarga telah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya. Halaman samping rumah mereka yang dulunya dihiasi dengan kehijauan dan canda tawa, hari ini sudah lenyap. Hanya karena dedaunan yang berjatuhan karena sebuah kewajaran, Darman sekeluarga harus kehilangan sebatang pohon warisan yang sangat berharga. Kini, mereka percaya bahwa kekuasaan yang besar itu sulit untuk dikalahkan atau hanya untuk dimintai belas kasihan orang-orang kecil seperti mereka.
Hari-hari pun telah berlalu meninggalkan kejadian pahit pengeksekusian pohon mangga milik keluaarga Darman. Ada hal yang dirasa aneh dan janggal oleh Darman tatakala melewati rumah pak Joni. Beberapa minggu yang lalu pak Joni begitu geramnya dengan sampah sehingga dedaunan yang berjatuhan di halamannya dari pohon mangga keluarga Darman harus segera dimusnahkan sampai ke akarnya, yakni penebangan habis pohon mangga tersebut. Akan tetapi, ketika Darman melewati rumah pak Joni, terlihat dengan jelas adanya sampah—bungkus permen, botol minuman kosong, dan kertas-kertas—yang berserakan di halaman rumah tetangga barunya itu. Hal ini tentulah sebuah pemandangan yang tidak wajar ada di halaman orang yang tidak menyukai sampah. Ternyata pak Joni tidak konsisten dengan ucapannya sendiri dan penebangan pohon mangga Darman hanyalah sebuah bentuk nyata keiriannya terhadap kelurga Darman. Ia iri karena keluarga Darman memiliki pohon mangga yang sangat subur sedangkan ia tidak memiliki pohon apa pun. Dedaunan dari pohon mangga Darman yang berjatuhan di rumahnya hanyalah sebuah alasan untuk menghilangkan nikmat yang diperoleh Darman berupa pohon mangga golek yang sangat subur.
Padahal sebagai seorang pemimpin haruslah dapat menjaga warganya dan bukannya merugikan warga yang ia pimpin. Seorang pemimpin harus membuat orang-orang yang dipimpinnya merasa bahagia. Akan tetapi, berbeda dengan pak Joni yang malah membuat warganya tidak bahagia. Kini, Darman dan keluarganya tetap meneruskan hidup mereka di rumah itu. Tidak ada keinginan dari mereka untuk meninggalkan desa tersebut. Bagi mereka kejadian memilukan itu hanyalah sebuah ujian dari-Nya yang harus mereka terima dengan ikhlas. Seperti hari-hari biasanya, Darman tetap menjalankan tugasnya mengurus perkebunan yang telah ia garap sejak lama untuk menghidupi dirinya dan keluarganya. Saat ia menyirami tanaman-tanamannya di kebunnya, ingatannya pada pohon mangga kesayanganya semakin kuat di otaknya. Rasa pedih tetap ada dihatinya tatakala ia ingat dengan pohon tersebut. Ia teruskan mengurus kebun dan terus menatap ke depan dengan harapan yang lebih baik.

***

Tidak ada komentar: