Minggu, 13 Juli 2008

CERPEN DELAPAN MAHMUD JAUHARI ALI

Perempuan Ulet

Cerpen Mahmud Jauhari Ali

Hari masih gelap. Udara masih sangat dingin dan sang bulan tetap memantulkan cahaya surya. Suara katak bersahut-sahutan dengan riangnya. Nyanyian ayam ikut memecah kesunyian pagi buta. Di sebuah rumah tercium bau asap tanda adanya api yang sedang menyala. Akan tetapi, bukan asap kabakaran dari kelalaian manusia. Terlihat seorang perempuan mengaduk-aduk nasi yang balum tanak. Perempuan itu memasak nasi saat hari masih gelap. Lauk-pauk berupa ikan, telur, dan daging ayam pun ia masak dengan hati-hati. Setelah puas dengan nasi dan lauk-pauk buatannya, perempuan itu kembali mengaduk tepung terigu, telur, gula, pisang, dan air bersih. Setiap hari perempuan itu melakukan rutinitas tersebut. Orang-orang memanggilnya bibi Mursitah. Saat bibi Mursitah sedang asyik meletakkan hasil masakannya di tempat khusus, ada lelaki yang mandatanginya. Lelaki itu membantunya di dapur.
“Sermi dan Ipin masih tidur ya Bang?” tanyanya kepada lelaki itu.
“Ya, mereka masih tidur.”, jawab lelaki yang membantunya memasak.
Mereka meneruskan kegiatan yang hampir selesai mereka kerjakan. Aroma masakan hampir terciuma di setiap ruangan rumah itu. Api pun mereka matikan dari kompor yang masih panas.
Tidak lama kemudian anak-anak mereka bangun dari tempat tidur yang nyaman. Mereka pun salat Subuh berjamah di rumah karena tempat ibadah sangat jauh jaraknya dari rumah mereka. Seperti biasanya, sang ayah bertindak sebagai imam dan yang lainnya mengikutinya di belakang. Selesai mereka salat Subuh dengan tertib, mereka tidak tidur kembali. Mata mereka tetap terbuka walau udara pagi masih terasa dingin menyengat kulit mereka. Terdengar suara piring yang sedang disusun. Suara kursi yang sedang diletakkan di lantai dari atas meja juga terdengar menandakan mereka sedang bersiap-siap menjual masakan yang sudah siap saji. Lebih kurang pukul enam pagi mereka mulai berjualan. Dari pertama buka pada tujuh tahun silam, sudah cukup banyak orang yang membeli makanan bibi Mursitah. Saat ini pembelinya sudah banyak. Selain rasanya yang enak, harga-harganya pun tergolong murah. Orang-orang menyebut warung tersebut dengan nama warung bibi Mursitah, pasalnya yang paling sering melayanai pembeli adalah bibi Mursitah. Suaminya hanya sebentar melayani pembeli karena suaminya juga bekerja sebagai sopir angkot.
“Bu! Pak! Kami berangkat dulu ke sekolah.”, kata Sermi.
Sermi dan Ipin pun lalu mencium tangan kanan ibu dan bapak mereka. Kedua suami istri itu ingin sekali masa depan kedua anak mereka lebih cerah daripada mereka. Sermi bercita-cita menjadi guru yang dapat mencerdaskan bangsanya, sedangkan Ipin ingin menjadi pengusaha yang dapat menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Saat ini kedua anak bibi Mussitah masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Sang kakak—Sermi—sudah duduk di kelas tiga dan adiknya kelas dua.
Bibi Mursitah terlihat sangat sibuk melayani para pembeli di warung sederhananya. Banyak orang yang singgah dan makan di warungnya. Dapat dikatakan warungnya laris manis setiap hari. Setiap pagi anak-anak sekolah yang melalui warung itu sering membeli kue pisang buatan bibi Mursitah. Paman becak dan tukng ojek sering makan nasi di sana. Salah satu orang yang paling sering membeli makanan bibi Mursith adalah Saiful. Ia belum beristri. Sudah dua tahun ia tinggal di rumah sewaan dekat rumah bibi Mursitah. Orangnya terbiasa tidak suka masak sendiri. Warung bibi Mursitah bagai rumah keduanya. Sebenarnya bukan hanya warung itu yang ada di sana, ada tiga warung lainnya. Akan tetapi, warung bibi Mursitah terkenal dengan masakannya yang lezat dan harganya yang murah.
“Bi! Kue pisang ini nanti jangan dibuat lebih kecil ya seiring naiknya harga minyak!” pinta salah seorang anak sekolah yang sering membeli kue pisang di warung itu.
Bibi Mursitah pun harus mencari cara untuk tidak menggunakan minyak tanah sebagai pilihan lain untuk memasak. Kenaikan minyak tanah sangat dirasa berat oleh bibi Mursitah. Di satu sisi ia tidak ingin menaikan harga jualannya, tetapi di sisi lain harga minyak tanah melambung tinggi.

***

Hari ke hari warung bibi Mursitah tetap buka dengan rasa masakan yang lezat dan harga yang masih sama. Orang-Orang tidak bosan-bosannya membeli di sana. Bibi Mursitah mencoba tidak menggunakan bahan bakar minyak tanah. Awalnya bibi Mursitah menggunakan kayu bakar sebagai pilihan lain untuk memasak. Akan tetapi, asap dari pembakaran kayu menyebabkan pembeli selalu mengeluh. Bibi Mursitah pun mencari pilihan lainnya. Dari hasil coba-coba, bibi Mursitah pun mecoba bahan bakar dari serbuk kayu yang dimasukkan di sebuah wadah berbentuk tabung seukuran kompor. Tabung ini terbuat dari semen. Selain lebih hemat, asap yang dihasilkannya pun tidak sebanyak akibat pembakaran kayu belahan. Dengan kompor ini, bibi Mursitah dapat menjual dagangannya dengan harga yang murah. Walaupun pemerintah menyerukan tabung gas elpiji lebih murah daripada miyak tanah, bibi Mursitah tidak menghiraukannya karena bahan bakar yang selama ini digunakannya lebih murah daripada yang ditawarkan pemerintah. Bibi Mursitah juga membuat minyak goreng sendiri dari buah kelapa yang ada di belakang rumahnya. Dengan demikian harga makanan dan minuman di warung bibi Mursitah lebih murah daripada harga di warung lainnya.

***

Beberapa bulan kemudian warung bibi Mursitah terlihat sunyi. Warung itu tidak seperti dulu lagi. Tidak ada lagi suara obrolan para pembeli seperti dulu. Anak-anak sekolah juga tidak ada lagi yang singgah untuk membeli kue pisang bibi Mursitah. Bahkan, suara penggorengan pun tidak terdengar lagi di sana saat ini. Suasananya benar-benar lain daripada dulu. Kesunyian itu tidak disebabkan oleh harga makanan dan minuman yang mahal di warung itu. Dua bulan sebelumnnya ada yang lain di lingkungan tempat tinggal bibi Mursitah dan sekitarnya. Kira-kira jam sepuluh malam, ada suara yang asing dipendengaran warga setempat. Suara itu mirip gemuruh suara pasawat terbang. Setelah suara itu mendekat, ada suara lain yang datang. Suara yang lain itu adalah suara atap seng seperti dibanting berulang-ulang. Diikuti pula dengan suara kayu papan yang seperti dicongkel dan dihempaskan di tumpukan kayu lainnya. Warga pun mulai berlarian seperti semut-semut yang sarangnya dirusak. Takut bercampur sedih menyelimuti jiwa mereka. Mereka tidak menyangka keadaannya akan seperti itu. Hasilnya, warung bibi Mursitah menjadi salah satu bukti adanya angin puting beliung di sana.
Kini warung bibi Mursitah tinggal puing-puing yang tidak beraturan. Bibi Mursitah sekeluarga belum mampu membangun kembali warung mereka yang kini tela hancur diterpa angin dahsyat. Pasalnya, sebagian besar rumah mereka pun ikut hancur terkena terpaan angin yang sama. Banyak orang dari luar kampung itu yang memberi bantuan kepada para korban angin tersebut termasuk kepada keluarga bibi Mursitah.
“Bagamana Bang soal warung kita itu?” tanya bibi Mursitah.
“Insya Allah kita olah kembali kalau rumah kita sudah kita perbaiki”, jawab suaminya.
Mereka bergotong-royong memperbaiki rumah-rumah yang rusak. Banyak rumah yang mengalami kerusakan berat di kampung itu. Musibah memang tidak dapat kita hindari. Akhirnya selesai juga mereka memperbaiki rumah-rumah yang rusak.
“Assalamu’alaikum! Ada orang di rumah?” terlihat seorang lelaki berbaju kotor di luar rumah bibi Mursitah.
“Wa’alikumussalam.”, suara bibi Mursitah membalas kata-kata orang itu dari dalam rumah.
“Kayu-kayu dan beberapa lembar seng di muka rumah bibi bisakah saya ambil?” tanya lelaki di luar rumah itu.
“Maaf ya Pak! Kayu dan seng di muka rumah saya masih kami pakai untuk membangun kembali warung kami yang rusak itu.”, bibi Musitah manjawab dengan ramah.
“Masih terpakai rupanya. Tidak apa-apa Bi.”, kata lelaki itu sekenanya.
“Pak, ini ada beberapa botol tidak terpakai”, bibi Mursitah menawarkannya kepada lelaki itu.
“Terima kasih banyak Bi atas botol-botol ini.” lelaki pemulung itu pun gembira hatinya mendapatkan beberapa botol dari bibi Mursitah.
Esok harinya terdangar suara paku yang sedang dipukul di warung bibi Mursitah yang sudah menjadi puing-puing. Suara kayu yang sedang dipotong dengan gergaji juga terdengar di sana. Bibi Mursitah sekeluarga sedang membangun kembali warung mereka. Bahannya banyak diambil dari kayu-kayu dan seng yang dulu untuk menghemat biaya pembangunannya.
“Alhamdulillah, selesai juga warungnya dibangun kembali.”, bibi Mursitah mengucapkan rasa syukurnya.

***

“Saat hari masih gelap. Tatkala banyak orang masih tidur dengan lelap. Kala suara ayam-ayam jantan memecah kesunyian. Di rumah bibi Mursitah tercium kembali bau asap yang lama tidak mengepul di sana. Bibi Mursitah ditemani suami tercintanya mengaduk-aduk nasi yang belum tanak. Mereka kembali menyiapkan masakan untuk mereka jual saat terang datang menyapa. Kue pisang pun mereka olah kembali. Warung bibi Mursitah yang kemarin baru selelsai dibangun, hari ini sudah kembali ramai dikunjungi para pembeli. Anak-anak sekolah kembali singgah dan membeli kue pisang buatan bibi Mursitah. Para tukang ojek dan yang lainya kembali membeli masakan di warung itu seperti dulu. Obrolan pun terdengar kembali di wrung yang tadinya rata dengan tanah itu.
Dengan harga yang lebih murah dan rasa yang lebih lezat daripada di warung-warung lainnya, para pembeli tetap setia mengeluarkan uang mereka untuk mendapat makanan di warung bibi Mursitah. Bibi Mursitah termasuk orang yang gigih dalam bekerja. Ia juga tergolong orang yang kreatif dalam menjalani hidup. Di saat orang-orang demo mulut dan antri minyak tanah, bibi Mursitah dengan santainya menggunakan bahan bakar lain yang lebih murah untuk memasak.
“Sekarang kita memang sudah saatnya berdemo dengan perbuatan nyata. Berdemo mulut kurang mendukung kehidupan kita karena pemerintah tidak akan mau menerimanya. Kini kita memang harus lebih arif dan bijaksana dalam menyikapi keadaan yang semakin memburuk di negara kita sendiri.”, kata bibi Mursitah kepada anak-anaknya.

***

Tidak ada komentar: